Final Piala Dunia Semakin Dekat, Jersey Makin Politis
Di tengah gelaran Piala Dunia 2026 yang semakin dekat menuju babak final, jersey timnas telah menjadi bagian sehari-hari bagi pendukung sepak bola. Setiap kemenangan tim nasional membuat warna dan lambang di kaus kebanggaan itu melekat kuat dalam perbincangan publik. Namun di balik popularitasnya, jersey sepak bola tidaklah sekadar pakaian biasa, FIFA sendiri secara tegas melarang segala pesan politik atau simbol keagamaan pada seragam pemain.
Nyatanya, pada Piala Dunia 2026 FIFA pernah memerintahkan Timnas Haiti mengganti desain kaus mereka karena dianggap “terlalu politis”, desain asli yang menampilkan adegan Perang Kemerdekaan Haiti ditolak FIFA. Larangan FIFA ini menegaskan bahwa warna dan gambar pada jersey bisa memuat muatan politik yang kuat.
Di Brasil, jersey sepak bola nasional, khususnya kaus kuning hijau terkenal, sudah lama dipakai sebagai simbol politik. Pada pemilihan presiden 2018, calon sayap kanan Jair Bolsonaro rutin tampil mengenakan jersey Brasil untuk menegaskan slogan patriotisme dan nilai konservatifnya. Menurut profesor Marco Bettine dari Universitas Sao Paulo, “kaus nasional telah menjadi modal simbolik” siapa pun yang berhasil mengasosiasikan dirinya dengannya mendapat aura patriotisme dan kebersamaan. Sebenarnya politik dan jersey bertaut jauh sebelum itu. Pada era Presiden Getúlio Vargas (1930-an hingga 1950-an), pemerintah militer menggunakan kejayaan timnas sebagai propaganda nasionalisme. Di era itu, kaus kuning hijau bahkan diproklamasikan sebagai representasi identitas Brasil secara keseluruhan, seiring Brasil meraih gelar Piala Dunia pertama pada 1958.
Namun polarisasi politik akhir-akhir ini sempat mencemari citra jersey Brasil. Saat Piala Dunia 2022 (Qatar) berlangsung beberapa hari pasca pemilihan presiden Brasil, banyak orang menghindari mengenakan kaus kuning karena khawatir ditafsir mendukung pemerintah lama. Penjualan kostum alternatif berwarna biru justru melonjak karena masyarakat takut memakai kaus kuning berarti mewakili “militerisme sayap kanan” ala Bolsonaro. Kini, di tengah pemilihan presiden mendatang, sayap kiri Brasil berusaha merebut kembali simbol itu. Artis dan politisi progresif secara terbuka mengenakan kaus kuning pada kampanye mereka untuk menunjukkan bahwa jersey itu milik semua rakyat, bukan satu kelompok. Bahkan Pemerintah Brasil melalui Federasi Sepak Bola Brasil (CBF) meluncurkan kampanye “Jangan Malu Memakai Kaus Kuning” untuk mendepolitisasi seragam kebanggaan ini. Sebagaimana diingatkan Presiden terpilih Lula, kaus hijau-kuning “bukan milik partai politik mana pun, melainkan milik seluruh rakyat Brasil”.
Pada belahan dunia lain, jersey sepak bola juga kerap disulap menjadi alat politik. Beberapa diantaranya:
- Kolombia: Dalam kampanye Presiden 2026, calon kanan Abelardo de la Espriella sukses menggunakan jersey nasional kuning sebagai seragam kampanye. Sebelumnya dikenal dengan setelan jas rapi, Abelardo berbalik tampil memakai kaus timnas dan mengajak pendukungnya melakukan hal sama. Konsultan kampanyenya menjelaskan, simbol itu menegaskan “persatuan, kekuatan, patriotisme, dan cinta kepada Kolombia”. Meskipun ada penolakan, termasuk keputusan pengadilan yang melarangnya memakai kaus tersebut, pendukung Abelardo justru semakin gigih mengenakan kaus itu sebagai aksi tandingan.
- Iran (Diaspora AS): Pada Piala Dunia 2026, para pengungsi Iran di Los Angeles membawa simbol politik ke stadion. Beberapa penonton mengenakan kaus putih bermotif lambang “Singa dan Matahari” pra-revolusi 1979, padahal FIFA melarang pengibaran simbol berbau politik di lapangan. Sebaliknya, penonton lain malah mengenakan jersey tim nasional Iran dan menyerukan untuk “melupakan politik dan fokus mendukung tim”. Perbedaan aksi ini menunjukkan betapa jersey bisa ditafsir beragam: bagi sebagian, itu simbol protes; bagi yang lain, itu hanya seragam sepak bola.
- Amerika Latin (Protes Sosial): Pada gelombang protes sosial di Kolombia tahun 2021, banyak massa dari kalangan termarjinalisasi justru memakai jersey nasional kuning sebagai simbol perlawanan. Mereka mengibaratkan “kaus sepak bola nasional” sebagai lambang kebanggaan bersama, yang di jalanan diubah maknanya menjadi seragam perjuangan menuntut perubahan. Hampir 94% warga Kolombia menyatakan sepak bola penting dalam hidup mereka, sehingga kaus timnas menjadi simbol identitas nasional yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat.
Secara umum, politisasi jersey mencerminkan kekuatan simbol olahraga dalam politik. Di berbagai negara, penguasa maupun oposisi memanfaatkan pengaruh tim nasional untuk menarik simpati rakyat. Namun aturan tetap melarang penyisipan pesan politik eksplisit: FIFA menyatakan bahwa seragam tidak boleh memuat slogan atau gambar politik. Ketegasan ini ditegakkan dalam praktik misalnya saat FIFA memblokir desain kaus Piala Dunia yang berpotensi dinilai “politik”.
Pada akhirnya, banyak yang berharap Piala Dunia dan olahraga pada umumnya bisa merekatkan warga, bukan memecah belah. Bagaimanapun, sepak bola mengajarkan bahwa logo di kaus bukan hanya desain, ia bisa membawa pesan kuat yang mempersatukan atau memisahkan bangsa.
Sources :
Barry, C. (2026). Haiti’s World Cup jersey deemed too political, echoing censure of its Winter Olympic uniform. AP News.
Ellis, C. (2026, 16 Juli). How World Cup football jerseys became political in Latin America. Al Jazeera.
Gómez, D. (2026). From the Pitch to Power: Football and Politics in Latin America. Fundación Konrad Adenauer (Diálogo Político).
Guardian News & Media. (2022, 19 Nov). World Cup gives Brazil fans chance to reclaim yellow jersey from far right. The Observer.
Pratt, T. (2021, 19 Agustus). How the Colombia football jersey became a symbol of protest. Andscape.
The Football Association. (n.d.). Law 4 – The Players’ Equipment. FA.com.
Gutierrez, M., & White, E. (2026, 15 Juni). Some Iranian Americans wave protest flags, others cheer as Iran play World Cup opener. Reuters.

