Ekonomi Lesu, Lalu Siapa yang Membeli Tiket BTS Seharga Rp5 Juta?
Tiket konser group asal Korea BTS seharga Rp5 juta terjual habis dalam hitungan menit. Harganya setara cicilan motor tiga bulan, atau hampir sama UMR Jakarta. Beberapa hari lalu, Boyband EXO juga menggelar konser yang tiketnya bahkan ada yang terjual hingga 10 juta per tiket. Padahal, Aliansi Ekonom Indonesia menyebut kondisi ekonomi negara saat ini telah berada di keadaan darurat.
Prospek ekonomi Indonesia pada 2026 dibayangi perlambatan pertumbuhan akibat ketidakpastian global, konflik geopolitik, kenaikan harga energi, dan pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS. Di dalam negeri, pasar tenaga kerja juga melemah, ditandai turunnya Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) dan berlanjutnya PHK di sektor tekstil, garmen, serta otomotif.
Sementara itu, BPS mencatat kelas menengah menyusut hampir 10 juta orang sepanjang 2019–2023. Dalam beberapa bulan terakhir, publik juga dibayangi isu sempitnya ruang fiskal pemerintah dan kenaikan harga BBM non-subsidi.
Ini mungkin terlihat seperti paradoks. Mengapa orang beramai-ramai membeli tiket konser semahal itu di tengah kondisi ekonomi negara yang sedang seret?
Ternyata, dua kenyataan ini tidak bertentangan.
Yang membeli tiket itu bukan orang kaya. Sebagian besar adalah Gen Z dan milenial muda dengan penghasilan menengah ke bawah, kerja kontrak atau lepas, tidak punya rumah, bahkan mungkin masih ditanggung orang tua. Mereka membayar cicilan lewat kartu kredit atau paylater. Beberapa menabung khusus enam bulan sebelumnya. Ada yang jual barang.
Ini bukan perilaku konsumsi yang irasional. Ini rasionalitas yang lahir dari ketiadaan pilihan lain.
Dalam behavioral economics, terdapat konsep yang disebut Lipstick Effect. Ketika kondisi ekonomi memburuk dan kemewahan besar semakin sulit dijangkau, masyarakat tidak berhenti mengonsumsi. Mereka hanya mengalihkan pengeluarannya ke bentuk kemewahan yang lebih kecil, lebih realistis yang masih bisa mereka raih.
Dulu kelas menengah bekerja keras untuk membeli rumah, mobil, atau aset yang diyakini akan memperbaiki masa depan. Hari ini, banyak dari tujuan itu terasa semakin jauh. Harga properti tumbuh jauh lebih cepat daripada pendapatan. Uang muka rumah membutuhkan tabungan bertahun-tahun. Mobil baru menjadi beban cicilan jangka panjang. Bahkan membangun keluarga pun terasa semakin mahal.
Ketika impian besar tampak menjauh, orang mencari kemenangan-kemenangan kecil yang masih mungkin diraih. Dalam konteks itulah membeli tiket konser menjadi masuk akal.
Mengeluarkan Rp5 juta untuk menonton BTS memang mahal. Namun bagi sebagian anak muda, angka itu masih jauh lebih mungkin dicapai dibanding menyiapkan Rp300 juta untuk uang muka rumah. Tiket konser menawarkan sesuatu yang tidak diberikan oleh pasar kerja, atau kondisi ekonomi saat ini yaitu kepastian bahwa uang yang dikeluarkan akan menghasilkan kebahagiaan yang bisa langsung dirasakan.
Fenomena inilah yang menjelaskan mengapa penjualan tiket konser internasional tetap meledak di tengah keluhan tentang daya beli. Bukan karena masyarakat merasa kaya, melainkan karena banyak tujuan ekonomi jangka panjang terasa semakin sulit diraih.
Di kalangan Gen Z Indonesia, ada satu variabel lain yang menjelaskan. Menonton konser K-pop bersama puluhan ribu orang juga menjadi simbol identitas. Ini merupakan pengalaman kolektif yang menjadi penanda keanggotaan dari suatu kelompok, dan kadang satu-satunya ruang di mana mereka merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari rutinitas kerja yang melelahkan.
Kesalahan terbesar adalah menganggap konser yang sold out sebagai bukti bahwa ekonomi baik-baik saja. Yang kita lihat justru bisa jadi gejala sebaliknya. Ketika keadaan semakin sulit, masyarakat tidak berhenti bermimpi. Mereka hanya menyesuaikan ukuran mimpinya.
Mereka menekan pengeluaran di mana-mana, tidak makan di luar, tunda beli pakaian, perpanjang pakai gadget lama, supaya ada ruang untuk satu pengeluaran besar yang terasa bermakna. Lebih seperti pelarian yang direncanakan dengan cermat daripada kemewahan.
Arena konser yang penuh sesak mungkin bukan tanda kemakmuran. Bisa jadi ia adalah potret sebuah generasi yang sedang mencari ruang untuk menikmati hidup di hari ini di tengah semakin sempitnya peluang untuk merencanakan hari esok.
Source:
Ekonomi Lagi Lesu, Tapi Kok Konser Tetap Ramai? – Bisnis Best Friend
Kacau! Baru Sold Out, Tiket Konser BTS Jakarta 2026 Dijual Lagi 3 Kali Lipat
Pertumbuhan Ekonomi Sulit, Kelas Menengah Indonesia Semakin Menyusut | IDN Times
Data Bank Dunia: Kerja Keras tapi Sulit Kaya, Kelas Menengah Kian Menyusut
Kenapa Orang Tetap Beli Tiket Konser Mahal Meski Ekonomi Sedang Sulit? | IDN Times





