143 Tahun Kemudian: Krakatau Lahir Lagi
Lebih dari 140 tahun lalu, Krakatau menghancurkan dirinya sendiri. Dari reruntuhan itulah kemudian lahir Anak Krakatau. Kini, gunung yang “lahir” dari salah satu letusan paling dahsyat dalam sejarah tersebut kembali menunjukkan aktivitasnya. Per 7 September 2026, Badan Geologi mencatat Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III (Siaga). Episode erupsi menerus yang dimulai pada 4 September pukul 23.07 WIB berlangsung sekitar 25 jam dan berakhir pada 6 September pukul 00.04 WIB. Setelah itu, aktivitas kembali ditandai erupsi strombolian. Badan Geologi menilai probabilitas terjadinya letusan dalam beberapa periode berikutnya masih tinggi. Ancaman utama saat ini adalah lontaran batu pijar dan hujan abu lebat, sementara aliran lava dapat kembali menjadi ancaman apabila erupsi menerus terjadi.
Dampaknya sudah jauh melampaui kawasan gunung. Abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. Gangguan terbesar terjadi pada transportasi udara: delapan bandara sempat menghentikan operasional dan lebih dari 1.500 penerbangan terdampak, dengan sekitar 170.000 penumpang terkena pembatalan atau gangguan perjalanan. Kolom abu bahkan mencapai sekitar 20.000 kaki di sisi Jawa dan hingga 50.000 kaki di sisi Sumatra. Dengan kata lain, erupsi Anak Krakatau menunjukkan satu karakter penting gunung api modern: dampaknya tidak lagi berhenti di sekitar kawah. Satu letusan di sebuah pulau kecil di Selat Sunda dapat mengganggu penerbangan, sekolah, aktivitas nelayan, kualitas udara, hingga mobilitas ekonomi di wilayah yang berjarak ratusan kilometer.
Memahami Anak Krakatau tidak cukup hanya dengan melihat apa yang terjadi hari ini. Gunung ini merupakan bagian dari sejarah geologi yang jauh lebih panjang. Krakatau berada di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra, pada salah satu kawasan tektonik paling aktif di Indonesia. Sebelum 1883, kawasan tersebut telah menjadi lokasi aktivitas vulkanik selama berabad-abad. Puncaknya terjadi pada Agustus 1883, ketika Krakatau mengalami rangkaian erupsi besar yang kemudian membentuk kaldera dan menghancurkan sebagian besar tubuh gunung. USGS mencatat lebih dari 4 mil kubik material vulkanik terlontar dalam rangkaian letusan tersebut, sementara lebih dari 36.000 orang meninggal, sebagian besar akibat tsunami yang ditimbulkan oleh erupsi.
Secara sederhana, kronologi Krakatau dapat dibaca sebagai sebuah siklus: gunung terbentuk → membesar → meletus → runtuh → kemudian tumbuh kembali. Beberapa tonggak pentingnya adalah:
- Sebelum 1883: Krakatau merupakan kompleks gunung api di Selat Sunda, terdiri atas beberapa bagian utama yang kemudian mengalami kehancuran dalam erupsi besar.
- 26–27 Agustus 1883: rangkaian erupsi mencapai fase paroksismal. Sebagian besar tubuh Krakatau runtuh dan membentuk kaldera bawah laut. Material vulkanik dan perubahan mendadak pada tubuh gunung memicu tsunami besar yang menghantam pesisir Jawa dan Sumatra. Korban tewas diperkirakan lebih dari 36.000 orang.
- 1927: aktivitas vulkanik kembali muncul dari bawah laut di dalam kawasan kaldera. Pada 29 Desember 1927, nelayan melaporkan kolom “asap” dan lontaran material pijar. Inilah awal dari proses kelahiran Anak Krakatau.
- 1927–1930: material erupsi terus menumpuk hingga akhirnya membentuk daratan baru yang muncul ke permukaan laut. Anak Krakatau pun mulai tumbuh sebagai gunung api baru di dalam kaldera Krakatau.
- 1930-an–2018: Anak Krakatau terus mengalami pertumbuhan melalui erupsi berulang. Lava dan material piroklastik secara bertahap membangun tubuh gunung, menjadikannya salah satu contoh nyata bagaimana sebuah gunung api dapat “dibangun kembali” setelah kehancuran besar.
- 22 Desember 2018: sebagian tubuh Anak Krakatau runtuh ke laut ketika sedang aktif. Runtuhan tersebut memicu tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung dan menewaskan lebih dari 400 orang. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa bahaya Anak Krakatau bukan hanya letusan, tetapi juga kemungkinan ketidakstabilan tubuh gunung dan bahaya laut.
- 2026: setelah aktivitas yang berlangsung secara fluktuatif, Anak Krakatau kembali memasuki fase erupsi yang signifikan. Episode erupsi menerus 4–6 September menunjukkan bahwa siklus pembangunan dan penghancuran tubuh gunung masih berlangsung. Penelitian terbaru bahkan menunjukkan bahwa pertumbuhan Anak Krakatau sejak 1927 dapat dilacak melalui perubahan volume dan ketinggian tubuh gunung dari waktu ke waktu.
Nama “Anak Krakatau” sebenarnya bukan sekadar metafora. Secara geologi, ia memang merupakan produk dari sistem vulkanik Krakatau yang kembali aktif setelah kehancuran 1883. Karena itu, sejarah Anak Krakatau tidak bisa dipisahkan dari sejarah Krakatau itu sendiri. Letusan 1883 bukan akhir cerita, melainkan semacam “reset” yang membuka fase baru: dari sebuah gunung yang runtuh lahirlah gunung baru yang terus membangun dirinya sedikit demi sedikit.
Erupsi saat ini tidak otomatis berarti akan terjadi letusan sebesar 1883. Badan Geologi justru menyatakan bahwa tubuh Anak Krakatau yang tumbuh kembali setelah keruntuhan 2018 masih relatif kecil dan belum menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. BMKG juga melaporkan bahwa hingga 6 September 2026 tidak terdeteksi anomali muka laut yang mengindikasikan tsunami di Selat Sunda terkait rangkaian erupsi terbaru.
Yang perlu dilakukan masyarakat bukan panik, melainkan tahu apa yang harus dilakukan ketika abu datang. Jika berada di wilayah yang terdampak abu, kurangi aktivitas di luar rumah dan gunakan masker ketika harus keluar. Abu vulkanik bukan sekadar “debu biasa”; partikelnya dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan. Tutup sumber air dan makanan, lindungi mata bila paparan cukup tinggi, dan ikuti informasi pemerintah daerah. Yang paling penting: jangan mendekati gunung untuk mengambil foto atau video. Badan Geologi menetapkan larangan beraktivitas dalam radius 3 km dari pusat aktivitas Anak Krakatau, dengan potensi bahaya berupa lontaran batu pijar, lava, awan panas dan hujan abu lebat.
Pada akhirnya, Anak Krakatau adalah semacam “laboratorium alam” yang hidup di tengah Selat Sunda. Ia lahir dari kehancuran Krakatau 1883, tumbuh selama hampir satu abad, runtuh sebagian pada 2018, lalu kembali membangun dirinya. Erupsi September 2026 kembali menunjukkan bahwa cerita Krakatau belum selesai. Gunung itu mungkin tidak sedang mengulang 1883, tetapi ia sedang mengingatkan kita bahwa di Indonesia, sejarah geologi bukan sesuatu yang hanya tersimpan di buku. Ia masih bergerak, masih tumbuh, dan sesekali masih meletus di depan mata kita.
SOURCES:
Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2026, September 7). Perkembangan erupsi Gunungapi Anak Krakatau tanggal 7 September 2026.
Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2026, September 5). Fenomena erupsi menerus Gunungapi Anak Krakatau tanggal 5 September 2026.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana. (2026, September 5). Erupsi menerus Gunung Anak Krakatau disertai dentuman, BNPB imbau masyarakat tetap tenang dan waspada.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. (2026, September 6). BMKG terus pantau dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. (2026, September 6). Hasil pemantauan multi-sensor InaTEWS di sekitar Selat Sunda: Tidak terdeteksi anomali muka laut dan meteotsunami di Selat Sunda.
Simkin, T., & Fiske, R. S. (1983). Krakatau 1883. U.S. Geological Survey, Earthquake Information Bulletin, 15(4), 128–133.
Madden-Nadeau, A., et al. (2026). Forecasting future instability hazards at Anak Krakatau volcano, Indonesia, using archival reconstructions of edifice evolution. Bulletin of Volcanology.




