Dasco vs Sjafrie: Perang Dingin Dua Orang Terdekat Prabowo

June 11, 2026

Dasco vs Sjafrie: Perang Dingin Dua Orang Terdekat Prabowo

Siapa orang paling berkuasa setelah Prabowo Subianto? Pertanyaan itu diam-diam membelah elite Jakarta. Orang awam mungkin akan mengatakan Jokowi, Megawati, sembilan naga, atau nama-nama besar lain. Namun bagi mereka yang hidup di sekitar pusat kekuasaan, biasanya hanya akan muncul dua nama, keduanya orang terdekat Prabowo, dan keduanya tidak selalu akur.

Tanyakan kepada politikus mana pun di Senayan tentang hubungan Sufmi Dasco Ahmad dan Sjafrie Sjamsoeddin, dan Anda akan menerima senyum yang seragam. Di Jakarta, rahasia politik biasanya cepat bocor. Namun, perseteruan Dasco dan Sjafrie sudah tak lagi bisa disebut rahasia. 

Dasco adalah Ketua Harian Gerindra, partai yang dipimpin Prabowo sendiri, sekaligus Wakil Ketua DPR. Jabatan resminya wakil, tetapi para politikus menjulukinya “Ketua Umum DPR”. Panggilan populernya Don Dasco. Lewat tangannya hampir semua agenda pemerintah melaju mulus di Senayan, dan lewat dia pula Prabowo menggalang dukungan politik nyaris tanpa perlawanan. Banyak agenda boleh diperdebatkan panjang di DPR, tetapi ujungnya acapkali ditentukan oleh apakah Don setuju atau tidak. 

Sjafrie datang dari jalur yang lebih tua. Kawan sekelas Prabowo di Akademi Militer ini kini Menteri Pertahanan, dengan jaringan yang mengakar di tubuh tentara. Keduanya sama-sama duduk di tim asistensi yang menyiapkan pemerintahan Prabowo setelah pilpres, dan keduanya termasuk segelintir orang yang paling didengar presiden. Delapan anggota DPR dan dua pejabat pemerintah yang ditemui Tempo bercerita hubungan mereka kerap bergesekan, dari pembahasan undang-undang sampai kebijakan pemerintah.

Sumber pertentangannya berlapis. Lapisan pertama adalah perebutan klasik di sekitar takhta, yaitu siapa yang menjadi pintu masuk menuju telinga presiden. Dasco selama ini memonopoli fungsi juru kunci politik lewat partai dan parlemen. Sjafrie merasa berhak atas peran serupa lewat ikatan satu angkatan. Lapisan kedua lebih struktural. Pemisahan TNI dan Polri pada masa Reformasi meninggalkan sengketa kewenangan yang tidak pernah tuntas, dan dua institusi bersenjata itu sejak lama mencari patron di pusat kekuasaan. Hari ini pencarian itu bermuara pada dua nama. Sjafrie memegang tentara, Dasco merapat ke polisi. Hubungan dua alat negara itu sudah lama bagai api dalam sekam, patronase politik tinggal menyiramkan bensin ke atasnya.

Pertentangan itu meletup pertama kali pada Agustus 2025. Demonstrasi menolak kenaikan tunjangan DPR meledak jadi kerusuhan setelah pengemudi ojek online Affan Kurniawan tewas dilindas kendaraan taktis Brimob. Sedikitnya sepuluh orang meninggal dalam sepekan. Menurut laporan Tempo, di tengah kekacauan yang terjadi, Sjafrie datang ke rapat terbatas di Hambalang mengusulkan darurat militer. 

Diduga sasaran politiknya, menurut laporan Tempo, adalah mendongkel Kapolri Listyo Sigit Prabowo. Polisi membalas dengan caranya sendiri, yaitu mengungkap orang-orang terduga provokator yang ternyata personel Badan Intelijen Strategis TNI, bergerak rapi, terstruktur, dengan ciri seragam. Komisi Pencari Fakta belakangan mengonfirmasi indikasi keterlibatan tentara. Republik nyaris masuk darurat militer, dan publik baru tahu kemudian bahwa salah satu bahan bakarnya adalah duel dua orang dekat presiden.

Ronde kedua berlangsung lebih halus. Oktober 2025, ketika Sohibul Iman (PKS) dan Surya Paloh (Nasdem) sama-sama mengeluhkan macetnya komunikasi ke presiden, Sjafrie membuka pintu kantornya di Medan Merdeka Barat. Dalam tiga hari ia menerima Paloh, lalu rombongan petinggi PKS. Sjafrie disebut sebagai kaki baru Prabowo di panggung politik. Partai-partai yang dulu antre di ruang tunggu Don kini punya pintu kedua. Tak sampai dua pekan, Prabowo mengundang Dasco ke rumah dinasnya. Publik membacanya sebagai keseimbangan yang dipulihkan sementara.

Ronde ketiga merangkak ke pasar modal. Awal Februari 2026, MSCI merilis laporan yang menyebut perdagangan saham di bursa Indonesia kurang tepercaya akibat transparansi yang lemah, dan IHSG ambrol. Sjafrie mendorong agar para pejabat pasar modal dan pengawas keuangan dipidanakan sebagai bentuk hukuman. Dasco menolak, dengan alasan pemidanaan akan memicu kepanikan pasar yang lebih luas. Prabowo memilih jalan Dasco. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia dan lima pimpinan OJK mundur serentak, rapi, tanpa borgol. Publik melihatnya sebagai bentuk tanggung jawab. Di Senayan, ia dibaca sebagai kemenangan salah satu kubu. 

Pertarungan berikutnya adalah proyek kendaraan yang disiapkan untuk Koperasi Merah Putih. PT Agrinas, perusahaan negara yang sarat purnawirawan dan perwira, mendatangkan pikap Mahindra dan Tata dari India untuk Koperasi Merah Putih, dengan rencana total 105 ribu unit. Program koperasi itu banyak melibatkan tentara, wilayah pengaruh Sjafrie. DPR di bawah kendali Dasco bergerak cepat. Banggar meminta impor dibatalkan karena bertentangan dengan kebijakan penguatan industri nasional, ribuan buruh mengepung Senayan, dan Dasco sendiri terbuka meminta pemerintah menunda serta mengevaluasi rencana itu. Wacana ratusan ribu mobil India layu sebelum sempat berkembang.

Implikasinya melampaui gosip elite. Pasar modal, institusi keamanan, program koperasi desa, sampai nyawa demonstran kini bisa terseret ke dalam arena perebutan dominasi. Bagi Prabowo sendiri, duel ini barangkali berguna. Dua orang kuat yang saling mengintai jauh lebih aman bagi seorang presiden ketimbang satu orang kuat yang tak tertandingi, resep tua yang dipakai Soeharto selama tiga dekade mengelola para jenderalnya. 

Masalahnya, biaya permainan ini ditanggung pihak yang tidak ikut bermain. Mereka bukan Dasco, bukan Sjafrie, dan bukan pula bagian dari lingkaran Istana. Mereka adalah publik yang harus menanggung akibat dari setiap ronde yang dimainkan. Setiap pergeseran keseimbangan kekuasaan di Jakarta dapat menjelma menjadi ketidakpastian bagi pasar, kebijakan yang tersendat, atau institusi yang melemah. 

Untuk saat ini, tidak ada pemenang. Yang ada hanyalah dua orang kuat yang terus menambah pengaruh, dua jaringan yang terus membesar, dan satu presiden yang masih mampu menjaga keduanya tetap berada dalam orbit yang sama. Namun kira kira apa yang terjadi ketika orbit itu mulai berubah. 

Source

Make a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

We are an independent research institution committed to excellence in data and research to deliver the right strategies

Contact Info

Office Address