Rupiah Melemah di Tengah Janji Menjaganya: Antara Tekanan Global dan Krisis Kepercayaan Pasar
Apa yang menyebabkan rupiah merosot ke rekor terendah sepanjang masa? hingga menyentuh hampir Rp 18.200 per USD! dan kira-kira apa solusi yang sekiranya bisa dilakukan untuk menangani hal tersebut?
Mengapa Rupiah Terus Melemah? Analisis Ekonomi dan Politik di Balik Anjloknya Nilai Tukar
Dalam beberapa pekan terakhir, nilai tukar rupiah mengalami tekanan yang sangat berat hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS, menjadikannya salah satu titik terlemah dalam sejarah modern Indonesia. Pada awal Juni 2026, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp18.000–18.100 per dolar AS, jauh lebih lemah dibandingkan periode awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada Oktober 2024 yang berada di sekitar Rp15.500–16.000 per dolar AS.
Jika menggunakan asumsi kurs awal pemerintahan sekitar Rp15.600 per dolar AS dan kurs saat ini sekitar Rp18.000 per dolar AS, maka pelemahan rupiah mencapai sekitar 15,4%.
Artinya, sejak awal masa pemerintahan Prabowo, nilai rupiah telah kehilangan lebih dari 15% daya tukarnya terhadap dolar AS. Angka ini tergolong signifikan karena terjadi dalam waktu kurang dari dua tahun.
Faktor Ekonomi: Kombinasi Tekanan Global dan Domestik
Dari sisi ekonomi, pelemahan rupiah tidak dapat dilepaskan dari kondisi global. Tingkat suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi membuat aset-aset dolar menjadi lebih menarik dibandingkan aset negara berkembang. Investor global kemudian menarik dananya dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk ditempatkan pada instrumen berbasis dolar yang dianggap lebih aman dan memberikan imbal hasil lebih tinggi. Ditambah lagi, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan konflik yang melibatkan Iran turut mendorong kenaikan harga energi serta meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai safe haven.
Namun faktor global saja tidak cukup menjelaskan mengapa rupiah menjadi salah satu mata uang dengan performa terburuk di kawasan Asia tahun ini. Masalah yang lebih besar justru berasal dari dalam negeri, yaitu menurunnya kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia. Investor melihat adanya peningkatan risiko fiskal akibat berbagai program belanja besar pemerintah yang membutuhkan pendanaan sangat besar, sementara penerimaan negara belum tumbuh secepat kebutuhan belanja tersebut. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa defisit fiskal akan semakin melebar dan utang pemerintah meningkat dalam beberapa tahun mendatang.
Selain itu, terjadi arus keluar modal (capital outflow) yang cukup besar dari pasar saham dan obligasi Indonesia. Kepemilikan asing pada obligasi pemerintah bahkan turun ke level terendah dalam hampir dua dekade. Ketika investor asing menjual aset rupiah dan mengonversinya menjadi dolar AS, tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin besar.
Faktor Politik: Fragmentasi Pengaruh dan Ketidakpastian Arah Kebijakan
Selain faktor ekonomi, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh persepsi pasar terhadap dinamika politik di sekitar pemerintahan Presiden Prabowo. Belakangan muncul kesan adanya beberapa pusat pengaruh (multiple power centers) di lingkaran dalam pemerintahan yang mendorong agenda dan prioritas berbeda-beda. Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor mengenai arah kebijakan ekonomi yang sebenarnya akan menjadi prioritas pemerintah.
Bagi pasar, persoalannya bukan pada siapa yang lebih berpengaruh di sekitar Presiden, melainkan apakah pemerintah mampu menghadirkan satu arah kebijakan yang konsisten dan dapat diprediksi. Ketika muncul persepsi adanya perbedaan pandangan atau tarik-menarik kepentingan di antara para tokoh kunci pemerintahan, tingkat ketidakpastian politik ikut meningkat dan berdampak pada kepercayaan investor.
Akibatnya, berbagai upaya Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah menjadi kurang efektif karena pasar tidak hanya menilai kondisi ekonomi saat ini, tetapi juga menilai kepastian arah kebijakan ke depan. Dalam konteks tersebut, pelemahan rupiah dapat dilihat bukan hanya sebagai dampak tekanan eksternal, melainkan juga sebagai cerminan kehati-hatian investor terhadap konsistensi dan soliditas pengambilan keputusan di dalam pemerintahan. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka tantangan terbesar pemerintah bukan sekadar menguatkan rupiah, melainkan memulihkan kepercayaan pasar terhadap arah ekonomi nasional.
Apa yang Sudah Dilakukan Bank Indonesia?
Bank Indonesia sebenarnya tidak tinggal diam. Berbagai langkah telah ditempuh, antara lain:
- Intervensi langsung di pasar valas spot.
- Intervensi pada pasar non-deliverable forward (NDF).
- Pembelian surat berharga negara di pasar sekunder.
- Peningkatan daya tarik instrumen SRBI untuk menarik aliran modal asing.
- Pengetatan aturan pembelian dolar AS.
- Koordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk meningkatkan yield aset-aset domestik agar kembali menarik bagi investor.
Namun berbagai langkah tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap penguatan rupiah. Bahkan setelah intervensi besar-besaran, rupiah tetap mencatat rekor pelemahan baru pada Mei dan Juni 2026.
Mengapa Intervensi BI Belum Efektif?
Akar masalahnya bukan lagi berada pada pasar valas semata, melainkan pada krisis kepercayaan (confidence crisis).
Intervensi BI pada dasarnya hanya mampu mengurangi volatilitas jangka pendek. Namun apabila investor meyakini bahwa risiko fiskal akan meningkat, arah kebijakan ekonomi tidak konsisten, dan ketidakpastian politik masih tinggi, maka intervensi sebesar apa pun hanya akan menjadi “obat penahan gejala”, bukan penyembuh penyakitnya.
Pasar saat ini tidak hanya bertanya:
“Apakah BI mampu menjaga rupiah?”
Tetapi juga:
“Apakah Indonesia masih menjadi tempat yang menarik untuk menanam modal dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan?”
Selama pertanyaan kedua belum terjawab dengan meyakinkan, tekanan terhadap rupiah berpotensi terus berlanjut.
Solusi yang Masuk Akal untuk Menguatkan Rupiah
Dari Sisi Moneter
- Menaikkan suku bunga acuan secara lebih agresif
Langkah ini dapat meningkatkan daya tarik aset rupiah dan mengurangi arus keluar modal. Namun konsekuensinya adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi. - Memperkuat cadangan devisa dan instrumen lindung nilai
BI perlu terus memperluas instrumen investasi rupiah yang menarik bagi investor asing dan domestik. - Memperkuat kewajiban penempatan devisa hasil ekspor (DHE)
Semakin banyak devisa ekspor yang tetap berada di dalam negeri, semakin besar pasokan dolar di pasar domestik.
Dari Sisi Fiskal
- Menunjukkan disiplin fiskal yang lebih kuat
Pemerintah perlu memberikan sinyal yang jelas bahwa belanja negara tetap terkendali dan tidak mengancam keberlanjutan fiskal. - Memprioritaskan belanja produktif
Anggaran harus lebih banyak diarahkan pada investasi yang meningkatkan produktivitas seperti infrastruktur, industri, dan teknologi daripada program yang hanya meningkatkan konsumsi jangka pendek. - Meningkatkan kepastian regulasi investasi
Investor membutuhkan kepastian hukum dan kebijakan yang konsisten agar bersedia membawa modal jangka panjang ke Indonesia. - Memperbaiki komunikasi kebijakan
Pasar sangat sensitif terhadap sinyal pemerintah. Komunikasi yang konsisten antara pemerintah, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia menjadi faktor penting untuk memulihkan kepercayaan.
Kesimpulan
Pelemahan rupiah saat ini bukan semata-mata akibat kuatnya dolar AS atau gejolak global. Faktor domestik berupa menurunnya kepercayaan investor terhadap arah kebijakan fiskal dan ekonomi Indonesia turut memainkan peran besar. Sejak awal pemerintahan Prabowo Subianto, rupiah telah melemah sekitar 15% terhadap dolar AS. Meskipun Bank Indonesia telah melakukan berbagai intervensi dan kebijakan stabilisasi, dampaknya masih terbatas karena pasar melihat persoalan yang lebih mendasar, yaitu kredibilitas kebijakan dan keberlanjutan fiskal.
Dengan kata lain, penguatan rupiah ke depan tidak hanya membutuhkan intervensi moneter dari Bank Indonesia, tetapi juga pemulihan kepercayaan pasar melalui kebijakan fiskal yang kredibel, disiplin anggaran, serta kepastian arah ekonomi nasional. Jika aspek kepercayaan ini dapat dipulihkan, maka tekanan terhadap rupiah berpotensi mereda secara lebih berkelanjutan dibandingkan hanya mengandalkan intervensi di pasar valuta asing.
Sources:
Reuters. (2026, 6 Juni). Indonesia Central Bank, Finance Minister Agree to Boost Asset Yields to Aid Rupiah. Diakses dari Reuters.
Antara News. (2026, 4 Juni). Rupiah tembus Rp18.000 per dolar dibayangi tekanan global dan domestik. Diakses dari Antara News.
Liputan6. (2026, 3 Juni). Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu. Diakses dari Liputan6.

