Piala Dunia 2026 Termahal Sepanjang Sejarah, Apakah Narasi “Sepak Bola Milik Rakyat” Masih Relevan?

  • Home
  • Blog
  • International
  • Piala Dunia 2026 Termahal Sepanjang Sejarah, Apakah Narasi “Sepak Bola Milik Rakyat” Masih Relevan?
June 4, 2026

Piala Dunia 2026 Termahal Sepanjang Sejarah, Apakah Narasi “Sepak Bola Milik Rakyat” Masih Relevan?

11 Juni 2026 mendatang, bola pertama akan bergulir di tanah Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Empat puluh delapan tim, enam belas kota tuan rumah, dan satu turnamen yang oleh FIFA sendiri disebut sebagai “Piala Dunia terbesar sepanjang sejarah”. Di balik euforia itu, Piala Dunia 2026 sedang berubah menjadi mesin uang paling rakus yang pernah dikenal sepak bola, dan cara FIFA mengeruk cuan layak membuat kita berhenti sejenak sebelum ikut terbawa atmosfir pesta.

Siklus empat tahun 2023–2026 diperkirakan menghasilkan sekitar 13 miliar dolar AS untuk FIFA. Beberapa analis bahkan memprediksi angkanya bisa menembus 15 miliar dolar, rekor baru bagi badan pengelola sepak bola dunia. Dari total itu, sekitar 9 miliar dolar berasal langsung dari Piala Dunia 2026 .

Sebagian besar pendapatan memang masih datang dari hak siar televisi dan sponsor, sumber pemasukan klasik yang sejak lama menjadi tulang punggung keuangan FIFA. Yang berubah drastis kali ini adalah komponen tiket. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, FIFA menerapkan dynamic pricing. Sebuah mekanisme penentuan harga tiket yang menggunakan algoritma secara real-time berdasarkan permintaan, pentingnya pertandingan, dan sisa kursi yang tersedia. Persis seperti harga tiket pesawat yang melonjak saat kita ragu-ragu di depan layar.

Hasilnya cukup brutal. Tiket Kategori 1 yang saat penjualan dibuka pada musim gugur 2025 masih dijual sekitar 600 dolar, kini umumnya laku di atas 1.000 dolar. Untuk laga final, tiket Kategori 1 yang semula dihargai 6.000 dolar sudah menembus 32.000 dolar pada awal Mei 2026 di pasar resmi resale milik FIFA .

FIFA memiliki platform jual-beli tiket bekas bernama FIFA Marketplace. Di sana, pernah muncul satu tiket final dengan harga lebih dari 2,3 juta dolar. Setiap kali tiket berpindah tangan, FIFA mengutip 30 persen dari setiap transaksi penjualan ulang.

FIFA tidak hanya menjual tiket mahal satu kali, mereka mendesain sistem agar tetap mendapat potongan setiap kali tiket yang sama dijual lagi. Ini bukan lagi sekadar menjual pertandingan, melainkan menjadikan tiket sebagai instrumen spekulasi, dengan FIFA sebagai bandar yang selalu menang.

Selama puluhan tahun, Piala Dunia dijual dengan narasi bahwa ia milik semua orang: pesta rakyat sedunia, dari kafe di Buenos Aires sampai warung kopi di Surabaya. Bandingkan dengan kenyataan sekarang. Tiket termahal final 2022 di Qatar dilaporkan sekitar 1.600 dolar. Untuk 2026, angka itu sudah menjadi titik termurah dari kategori premium. Sepak bola yang dulu diklaim merakyat perlahan berubah jadi barang mewah untuk klien korporat dan turis berkantong tebal.

Kemarahan publik tidak tinggal diam. Jaksa agung negara bagian New York dan New Jersey telah membuka penyelidikan terhadap praktik penjualan tiket FIFA. Salah satu keluhannya adalah FIFA tidak pernah menjelaskan secara transparan berapa banyak kursi yang sebenarnya disisihkan untuk sponsor dan pemegang tiket premium. Konsumen biasa tak pernah tahu apakah “kursi terbatas” itu benar-benar terbatas atau sekadar taktik mendorong harga naik .

Bahkan Donald Trump, sebagai tuan rumah turnamen ini, sempat menyentil harga tiket dengan kalimat khasnya, “Saya tidak akan mau bayar segitu” .

Komersialisasi ini tidak berhenti di harga tiket. Daftar sponsor FIFA kini memuat Aramco, raksasa minyak Arab Saudi, sebuah kesepakatan yang memicu protes dari para pemain sendiri karena alasan kemanusiaan dan lingkungan. Sepak bola, olahraga yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim lewat gelombang panas yang mengganggu pertandingan, justru disponsori perusahaan bahan bakar fosil. Ironi yang dijual dengan harga tinggi.

Tidak ada yang salah dari sepak bola menghasilkan uang. Turnamen sebesar ini butuh biaya raksasa, dan sebagian dari 871 juta dolar hadiah yang dibagikan ke tim peserta, memang mengalir kembali ke pengembangan olahraga. Persoalannya bukan pada keuntungan, melainkan pada siapa yang menanggung dan siapa yang menikmati.

Ketika algoritma memutuskan harga per detik, ketika FIFA memungut potongan dari setiap tiket bekas, dan ketika transparansi sengaja dikaburkan, yang sedang dijual bukan lagi sekadar pertandingan, melainkan aksesibilitas ke sesuatu yang dulu dianggap milik bersama.

Sources

The Conversation. “Soaring ticket prices could help FIFA pull in $15B — this World Cup cycle: where does the money come from, where does it go?” The Conversation, 2026. https://theconversation.com/soaring-ticket-prices-could-help-fifa-pull-in-15b-this-world-cup-cycle-where-does-the-money-come-from-where-does-the-money-go-277128 

CNBC. “World Cup prize pool nears $900 million.” CNBC, 4 Mei 2026. https://www.cnbc.com/2026/05/04/fifa-world-cup-team-payouts-ticket-prices.html 

NPR. “FIFA’s World Cup ticket sales under investigation.” NPR, 28 Mei 2026. https://www.npr.org/2026/05/28/nx-s1-5836514/2026-world-cup-fifa-ticket-prices 

European Business Magazine. “The $11,000 World Cup: FIFA’s Dynamic Ticket Pricing.” European Business Magazine, 2026. https://europeanbusinessmagazine.com/business-fifa-world-cup-2026-dynamic-pricing-business/ 

nss sports. “Infantino and Trump: why the 2026 World Cup will be controversial.” nss sports, 2026. https://www.nss-sports.com/en/lifestyle/42557/infantino-trump-fifa-2026-world-cup 

Sportico. “FIFA Is About to Find Out What All That Trump Bootlicking Bought.” Sportico, 2026. https://www.sportico.com/leagues/soccer/2026/gianni-infantino-donald-trump-fifa-world-cup-ice-1234890188/



Make a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

We are an independent research institution committed to excellence in data and research to deliver the right strategies

Contact Info

Office Address