Pesta Babi: Dokumenter yang Bikin Aparat Kebakaran Jenggot

May 25, 2026

Pesta Babi: Dokumenter yang Bikin Aparat Kebakaran Jenggot

Pada 7 Mei 2026, sebuah pemutaran film di Universitas Mataram dihentikan sebelum selesai. Pihak kampus, bersama petugas keamanan, meminta layar dimatikan dengan alasan menjaga kondusivitas. Dua minggu kemudian, giliran pemutaran di kampus Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia di Bogor yang dibubarkan, kali ini oleh personel TNI dan Polri yang datang ke lokasi. Kejadian serupa berulang di NTB, Bali, dan Jawa Barat. Menko Hukum Yusril Ihza Mahendra menyatakan secara terbuka bahwa pemerintah tidak melarang pemutaran film ini. Tapi aparat di lapangan terus membubarkannya.

Film yang memicu semua itu berdurasi sekitar 90 menit dan kini bisa ditonton gratis di YouTube. Judulnya Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, produksi Watchdoc yang disutradarai Dandhy Dwi Laksono bersama Cypri Paju Dale. Watchdoc adalah rumah produksi dokumenter yang sejak Sexy Killers (2019) dikenal tidak berpura-pura netral. Dandhy memang tidak bermaksud membuat film dalam tradisi dokumenter yang membiarkan penonton menarik kesimpulan sendiri. Posisinya sudah jelas dari awal, dan ia membangun argumen secara sistematis ke arah sana.

Kasusnya berkaitan dengan Proyek Strategis Nasional (PSN) di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, Papua Selatan. PSN adalah sebutan untuk proyek yang ditetapkan pemerintah sebagai prioritas pembangunan nasional dengan proses perizinan yang disederhanakan. Dalam konteks Merauke, proyek yang dimaksud adalah rencana konversi hutan seluas 2,29 juta hektar menjadi perkebunan tebu untuk bioetanol dan kawasan food estate, program swasembada pangan dan energi. Luasnya setara 70 kali Jakarta. Di atas lahan itulah suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu selama ratusan tahun menggantungkan hidup pada hutan sagu.

Film ini mengikuti orang-orang yang tinggal di wilayah itu, mendokumentasikan perubahan yang mereka rasakan sejak proyek berjalan: sungai yang mulai keruh, hutan sagu yang terbuka, dan patok-patok beton yang muncul di dalam kawasan adat. Salah satu adegan yang paling diingat adalah saat anggota suku Awyu di Boven Digoel memasang salib merah di batang pohon sebagai pernyataan penolakan, dengan kamera mengikuti prosesnya tanpa komentar berlebihan dari narator.

Yang membedakan Pesta Babi dari film-film Watchdoc sebelumnya adalah upayanya menelusuri ke lapisan ekonomi-politik di balik proyek tersebut. Film ini tidak berhenti pada kisah masyarakat yang terdampak, tetapi mencoba mengidentifikasi siapa yang sesungguhnya mengambil keuntungan dari PSN itu.

Dua nama yang paling banyak disorot adalah Martias Fangiono dan Martua Sitorus. Martias adalah pendiri Surya Dumai Group, salah satu konglomerat kelapa sawit yang membangun bisnisnya di Kalimantan selama puluhan tahun. Di Merauke, cucunya, Angelia Bonaventure Sudirman, tercatat sebagai pemegang 90 persen saham PT Merauke Sugar Group, yang menjadi induk dari 10 perusahaan pemegang konsesi tebu dalam kluster PSN. Sepuluh nama perusahaan berbeda, satu keluarga di ujungnya. Martua Sitorus adalah salah satu pendiri Wilmar International, perusahaan agribisnis kelapa sawit terbesar di dunia yang berbasis di Singapura. Forbes menempatkan Martua sebagai orang terkaya ke-18 di Indonesia pada 2024. Di Merauke, Wilmar mengantongi konsesi sekitar 200 ribu hektar untuk perkebunan tebu. Total nilai investasi yang diklaim seluruh konsorsium mencapai Rp100 triliun, dengan konsesi tahap pertama melampaui 600 ribu hektar.

Film ini juga menampilkan rekaman dari Oktober 2024, ketika Presiden Joko Widodo hadir dalam upacara tanam tebu perdana PT Global Papua Abadi, salah satu perusahaan dalam konsorsium, dengan Martias dan Martua hadir di sisinya. Bagi pembuat film, momen itu merupakan konfirmasi visual tentang hubungan antara proyek negara dan kepentingan bisnis di baliknya. Bagi pendukung proyek, kehadiran presiden adalah bentuk dukungan negara terhadap investasi sah yang akan menciptakan lapangan kerja dan swasembada energi. Film ini jelas berpihak pada pembacaan yang pertama, dan tidak banyak memberi ruang bagi yang kedua.

Pendekatan semacam itu efektif dalam membangun narasi, tapi juga menjadi titik yang paling mudah dikritik. Resensi ini bukan tempat untuk menilai mana pembacaan yang lebih tepat. Yang bisa dicatat adalah bahwa film ini menyajikan data dan nama yang cukup spesifik untuk membuat penontonnya bisa memverifikasi sendiri, dan itu nilai tersendiri dalam genre dokumenter investigatif.

Kelemahan dari pendekatan itu ada di sisi yang sama dengan kelebihannya. Film yang sudah menetapkan tesis di awal cenderung hanya menampilkan fakta yang mendukung tesis tersebut. Pesta Babi tidak memberi ruang yang cukup bagi perspektif lain, misalnya argumen pemerintah tentang manfaat ekonomi proyek atau pandangan warga yang mungkin melihat peluang dalam pembangunan itu. Bagi penonton yang sudah sepemikiran dengan pembuat film, ini mungkin tidak menjadi masalah. Bagi yang datang dengan pertanyaan terbuka, film ini bisa terasa seperti presentasi satu pihak.

Cypri Paju Dale, sutradara asal Papua yang mengerjakan proyek ini bersama Dandhy, memberi dimensi yang berbeda pada beberapa bagian film. Ada momen-momen yang bergerak lebih lambat dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari subjeknya, di mana film ini terasa lebih seperti dokumentasi daripada argumen. Itu justru bagian yang paling efektif secara sinematik.

Sebagai film, Pesta Babi lebih kuat sebagai jurnalisme visual daripada sebagai karya sinema. Tapi dalam konteks isu yang diangkatnya, itu mungkin pilihan yang disengaja.

 

Source:

https://www.sawitku.id/ekbis/81417138693/dandhy-dwi-laksono-bos-sawit-martias-fangiono-dominasi-proyek-tebu-merauke-lewat-10-perusahaan 

https://sawitindonesia.com/ada-martias-dan-martua-di-proyek-gula-merauke/ 

https://projectmultatuli.org/en/meraukes-land-hungry-sugar-rush-how-tycoons-seize-indigenous-land-with-government-and-military-backing/ 

https://www.tempo.co/ekonomi/daftar-perusahaan-penggarap-proyek-food-estate-merauke-jokowi-5855

Make a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

We are an independent research institution committed to excellence in data and research to deliver the right strategies

Contact Info

Office Address