Dua Hari, Dua Suasana di Bundaran HI: Dari Demonstrasi Mahasiswa hingga Deklarasi yang Dihadiri Raffi Ahmad

  • Home
  • Blog
  • NEWSLETTERS
  • Dua Hari, Dua Suasana di Bundaran HI: Dari Demonstrasi Mahasiswa hingga Deklarasi yang Dihadiri Raffi Ahmad
October 30, 2026

Dua Hari, Dua Suasana di Bundaran HI: Dari Demonstrasi Mahasiswa hingga Deklarasi yang Dihadiri Raffi Ahmad

Peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026 di Jakarta diwarnai dua suasana yang berbeda. Di satu sisi, mahasiswa dan elemen masyarakat sipil turun ke jalan untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah. Sehari kemudian, kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) kembali menjadi pusat perhatian melalui deklarasi Sumpah Pemuda yang dihadiri Utusan Khusus Presiden, Raffi Ahmad.

Dua peristiwa yang berlangsung dalam waktu berdekatan dan di kawasan yang sama ini menghadirkan gambaran menarik tentang dinamika ruang publik: ada kelompok yang memilih menyampaikan aspirasi melalui demonstrasi, sementara kelompok lain hadir dalam agenda deklarasi persatuan. Namun, perkembangan setelahnya justru memunculkan pertanyaan mengenai kredibilitas sebagian peserta deklarasi.

28 Oktober: Lima tuntutan mahasiswa untuk pemerintah

Pada Rabu, 28 Oktober 2026, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama Komite Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR) dan sejumlah elemen masyarakat menggelar aksi bertajuk #IndonesiaSadar di kawasan Bundaran HI. Aksi tersebut menjadi momentum bagi mahasiswa untuk menyampaikan evaluasi terhadap dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.

Melalui seruan “Lima Perintah Rakyat”, demonstran membawa lima tuntutan utama:

  1. Penanganan bencana ekologis. Mahasiswa mendesak pemerintah menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional, mengadili korporasi yang bertanggung jawab, serta membenahi tata kelola lahan.
  2. Evaluasi kebijakan anggaran. Pemerintah diminta memastikan APBN benar-benar berpihak kepada masyarakat dan mengevaluasi penggunaan anggaran untuk program-program populis, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
  3. Pendidikan dan lapangan kerja. Mahasiswa menyoroti biaya pendidikan, pemerataan layanan dasar, serta kebutuhan terhadap lapangan kerja yang layak dan berkualitas.
  4. Penegakan hukum. Pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta penghentian penyalahgunaan kekuasaan menjadi bagian dari tuntutan.
  5. Demokrasi dan hak asasi manusia. Mereka meminta perlindungan kebebasan berpendapat, penegakan HAM, dan penghentian penyempitan ruang sipil.

Aksi berlangsung di tengah pengamanan aparat kepolisian dan berdampak pada arus lalu lintas di sekitar Jalan MH Thamrin dan Jalan Jenderal Sudirman. Bagi mahasiswa, demonstrasi tersebut merupakan cara untuk mengingatkan pemerintah bahwa evaluasi terhadap kebijakan publik tidak cukup dilakukan melalui pernyataan politik, tetapi perlu diwujudkan dalam perubahan yang dapat dirasakan masyarakat.

29 Oktober: Deklarasi Sumpah Pemuda bersama Raffi Ahmad

Sehari setelah demonstrasi, Bundaran HI kembali menjadi lokasi kegiatan yang berbeda. Polda Metro Jaya menggelar Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 pada Kamis, 29 Oktober 2026. Kegiatan tersebut dihadiri Raffi Ahmad selaku Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni.

Menurut pemberitaan, kegiatan ini melibatkan sekitar 100 mahasiswa, unsur TNI-Polri, organisasi kepemudaan, tokoh masyarakat, serta sejumlah figur publik. Deklarasi tersebut mengangkat pesan persatuan dan ajakan untuk melawan hoaks, ujaran kebencian, serta provokasi di media sosial.

Dalam kesempatan itu, Raffi Ahmad mengingatkan bahwa tantangan generasi muda saat ini telah berubah. Jika dahulu perjuangan identik dengan perlawanan fisik, kini generasi muda juga perlu menghadapi penyebaran informasi palsu dan provokasi yang berpotensi memecah belah masyarakat.

Karena berlangsung sehari setelah demonstrasi mahasiswa di lokasi yang sama, deklarasi tersebut kemudian menjadi bahan perbincangan publik dan dipersepsikan oleh sebagian pihak sebagai kegiatan yang berseberangan dengan aksi sebelumnya. Meski demikian, secara resmi kegiatan itu diberitakan sebagai deklarasi persatuan, bukan demonstrasi tandingan.

Menariknya, pada hari yang sama, mahasiswa Universitas Trisakti juga menggelar aksi di kawasan Patung Kuda dengan membawa tiga tuntutan atau Tritura: pemulihan ekonomi, ekologi, politik, pendidikan, dan kesehatan nasional; pemberantasan inkompetensi serta rangkap jabatan pejabat publik; dan penegakan supremasi sipil.

Dengan demikian, 29 Oktober tidak hanya diisi agenda deklarasi, tetapi juga tetap menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan kritik dan tuntutan kepada pemerintah.

Fakta baru: Peserta deklarasi mengaku bukan mahasiswa Undira dan dibayar

Perhatian publik terhadap deklarasi di Bundaran HI semakin besar setelah muncul klarifikasi dari seorang peserta bernama Bayu Setiadi, yang dikenal dengan nama Dino. Ia sebelumnya menjadi sorotan karena hadir dalam kegiatan tersebut dengan mengenakan jaket almamater Universitas Dian Nusantara (Undira).

Dalam video klarifikasi yang diunggah melalui kanal organisasi mahasiswa Undira, Bayu menyatakan bahwa dirinya bukan mahasiswa Universitas Dian Nusantara. Ia juga mengakui mengikuti kegiatan deklarasi pada 29 Oktober 2026 setelah mendapat undangan dari sebuah komunitas dan menerima bayaran untuk kehadirannya.

Bayu turut menjelaskan bahwa jaket almamater yang dikenakannya diberikan oleh pihak lain dan ia mengaku tidak mengetahui asal-usul jaket tersebut. Dalam klarifikasinya, ia menyampaikan permintaan maaf kepada pihak kampus karena tidak teliti ketika menerima pekerjaan tersebut.

Pengakuan ini menjadi catatan penting, terutama karena kegiatan yang membawa nama mahasiswa dan semangat persatuan seharusnya merepresentasikan partisipasi yang autentik. Kehadiran seseorang dengan atribut perguruan tinggi yang ternyata bukan mahasiswa kampus tersebut berpotensi menimbulkan kesan keliru mengenai keterlibatan institusi pendidikan.

Namun, ada batas yang perlu ditegaskan. Pengakuan Bayu hanya menjelaskan keterlibatan dirinya. Informasi yang tersedia belum cukup untuk memastikan siapa pihak yang membayarnya, berapa nilai pembayaran, atau apakah praktik serupa terjadi pada peserta lainnya. Tidak ada pula dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa Raffi Ahmad mengetahui ataupun terlibat dalam pengaturan kehadiran orang tersebut.

Karena itu, fakta ini perlu dibaca sebagai persoalan transparansi dan kredibilitas penyelenggaraan kegiatan, bukan sebagai bukti bahwa seluruh peserta deklarasi merupakan orang bayaran.

Ketika simbol persatuan berhadapan dengan persoalan kredibilitas

Rangkaian peristiwa pada 28 dan 29 Oktober 2026 memperlihatkan bahwa peringatan Sumpah Pemuda tidak hanya menjadi seremoni tahunan. Momentum tersebut juga menjadi ruang bagi beragam kelompok untuk menyampaikan pandangan tentang arah pemerintahan dan kondisi bangsa.

Demonstrasi mahasiswa pada 28 Oktober memperlihatkan sejumlah persoalan yang mereka anggap perlu segera ditangani, mulai dari bencana ekologis, kebijakan anggaran, pendidikan, penegakan hukum, hingga kebebasan sipil. Sementara itu, deklarasi pada 29 Oktober membawa pesan persatuan dan ajakan untuk menjaga ruang publik dari hoaks serta provokasi.

Keduanya pada dasarnya dapat berjalan beriringan. Persatuan tidak harus berarti meniadakan kritik, sebagaimana kritik juga tidak harus berujung pada perpecahan. Justru dalam demokrasi, kemampuan untuk menyampaikan perbedaan pendapat secara terbuka merupakan bagian penting dari kehidupan berbangsa.

Akan tetapi, pengakuan salah satu peserta deklarasi yang menyatakan dirinya dibayar untuk hadir menjadi pengingat bahwa simbol dan narasi persatuan harus didukung oleh praktik yang transparan. Kredibilitas sebuah kegiatan tidak hanya ditentukan oleh siapa tokoh yang hadir atau pesan yang disampaikan, tetapi juga oleh kejujuran dalam merepresentasikan siapa yang terlibat.

Pada akhirnya, semangat Sumpah Pemuda seharusnya tidak berhenti pada deklarasi dan seremoni. Ia perlu tercermin dalam keberanian menyampaikan kritik, kesediaan mendengarkan perbedaan, serta komitmen menjaga kejujuran dalam setiap kegiatan yang mengatasnamakan masyarakat dan generasi muda.

Sumber pemberitaan:

  1. Katadata — BEM UI dan Komite SADAR Demo di Bundaran HI, Serukan 5 Tuntutan, 28 Oktober 2026. Baca berita Katadata.
  2. IDN Times — Mahasiswa Demo di Bundaran HI Hari Ini, Bawa 5 Tuntutan, 28 Oktober 2026. Baca berita IDN Times.
  3. ANTARA — Polisi Gelar Deklarasi Sumpah Pemuda Bersama Mahasiswa di Bundaran HI, 29 Oktober 2026. Baca berita ANTARA.
  4. detikNews — Peringati Sumpah Pemuda, Polda Metro dan Mahasiswa Gelar Deklarasi di HI, 29 Oktober 2026. Baca berita detikNews.
  5. IDN Times — Viral Ngaku Mahasiswa PSI, Pria Beralmamater Undira Ternyata Dibayar, 30 Oktober 2026. Baca berita IDN Times.
  6. detikNews — Massa Aksi Sampaikan Aspirasi di Dekat Patung Kuda, 29 Oktober 2026. Baca berita detikNews.

Make a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

We are an independent research institution committed to excellence in data and research to deliver the right strategies

Contact Info

Office Address