Bukan Stok BBM yang Habis, tapi Sistem yang Tipis

October 20, 2026

Bukan Stok BBM yang Habis, tapi Sistem yang Tipis

Belum genap sebulan setelah antrean BBM di Makassar mereda, pemandangan serupa muncul di Bali. Sejak 12 Oktober, kendaraan mengular di sejumlah SPBU Pulau Dewata, dan sebagian warga antre berjam-jam, bahkan ada yang menginap. Dua kota di dua pulau berbeda, dengan jeda yang singkat.

Mari mulai dari Makassar, tempat antrean lebih dulu memuncak pada 10–13 September 2026. Menurut Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, sebagian pengguna BBM nonsubsidi beralih ke Pertalite setelah harga nonsubsidi naik, sehingga permintaan melonjak, sementara Pertamina menyebut stok tersedia. Bahlil juga menyoroti penyalahgunaan, yakni kendaraan dengan tangki modifikasi yang menampung hingga ratusan liter. Pemerintah daerah menerapkan ganjil-genap pelat nomor dan batas pembelian, sementara Pertamina membuka 25 SPBU selama 24 jam dan menambah SPBU modular.

Berbeda dengan Makassar, pemicu di Bali lebih bersifat logistik. Pertamina mengakui pasokan Pertalite terlambat, dan Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri meminta maaf sambil menyebut bongkar muat kapal tanker terkendala penjangkaran. Pertamina lalu menyiapkan tambahan sekitar 57,9 juta liter, dan pada 15 Oktober sekitar 19 juta liter sudah tiba. Di sisi lain, Dinas Perhubungan Bali mencatat konsumsi harian BBM naik signifikan sejak Juli, artinya kebutuhan sudah lebih tinggi sebelum kapal terlambat. Pada 19 Oktober, pemerintah menyatakan cadangan BBM Bali akan diperkuat dari 11 menjadi 15 hari.

Dari dua kasus ini, terlihat bahwa Makassar terganggu oleh permintaan yang melonjak mendadak, sedangkan Bali oleh pasokan yang tertunda. Meski sebabnya berbeda, keduanya menunjukkan hal yang sama, ketika ada guncangan kecil, sistem tidak punya cukup ruang untuk menahannya. Stok nasional yang aman tidak otomatis berarti BBM sampai ke SPBU tepat waktu, apalagi di wilayah kepulauan.

Sejak 10 Juni 2026, Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sedangkan Pertalite tetap Rp10.000, sehingga selisihnya Rp6.250 per liter. Pada September, Pertamax Rp15.950 sehingga jarak harga masih sekitar Rp5.950. Secara ekonomi, ketika harga ditahan jauh di bawah harga pasar, permintaan naik sementara pasokan dibatasi kuota dan kapasitas distribusi, sehingga yang menjatah BBM bukan lagi harga, melainkan waktu antre. Ekonom energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti memperkirakan sekitar 16–26% pengguna Pertamax bisa beralih ke Pertalite. Pergeseran semacam ini membuat pasokan di kota mana pun lebih rentan, termasuk Bali, meski penyebab utamanya di sana adalah keterlambatan kapal.

Situasi ini juga berkaitan dengan dinamika harga minyak dunia, Antrean di Bali tidak tepat jika langsung dianggap sebagai akibat kenaikan harga minyak. Namun, tekanan harga tetap menjadi latar yang penting, sebab Pertamina menyebut penyesuaian harga nonsubsidi mengikuti harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Kementerian ESDM menetapkan rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) September 2026 sebesar US112,81per barel,naikUS23,38 dari Agustus. Padahal, asumsi harga minyak dalam APBN 2026 hanya US$70 per barel, sehingga ICP berada sekitar 61,2% di atas asumsi.

Di titik inilah kebijakan fiskal diuji. Ketika pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi, beban kenaikan biaya energi tidak sepenuhnya ditanggung konsumen, tetapi berpotensi menambah beban APBN melalui subsidi dan kompensasi energi. Anggaran subsidi energi 2026 ditetapkan Rp210,1 triliun, dan jika digabung dengan kompensasi, yakni dana yang dibayarkan pemerintah kepada Pertamina untuk menutup selisih harga jual dengan harga keekonomian, totalnya Rp381,3 triliun. Pada Juli, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan kebutuhan subsidi dan kompensasi bertambah Rp132 triliun, sehingga outlook defisit melebar dari 2,68% menjadi 2,85% terhadap PDB. Ia juga menyebut setiap kenaikan harga minyak US$1 per barel menambah defisit sekitar Rp6 triliun.

Ruang fiskal memang masih ada, karena defisit hingga Juli baru 0,91% terhadap PDB dan pemerintah menargetkan defisit tetap di bawah 3%. Meski begitu, ICP September sudah di atas US$100 per barel yang dipakai pemerintah sebagai skenario hitungan, walaupun skenario itu merujuk rata-rata setahun. Dampaknya juga tidak sesederhana “harga naik berarti negara rugi”, sebab harga minyak tinggi dapat menambah penerimaan hulu migas, bergantung pada lifting, kurs rupiah, dan besar subsidi. Namun, migrasi konsumen ke BBM subsidi menggerus hasilnya. Yayan Satyakti memperkirakan kebocoran subsidi Rp8,2–9,4 triliun per tahun, atau sekitar 40% penghematan kotor dari kenaikan harga Pertamax. Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung pada 13 Oktober menyatakan pemerintah tidak berencana menaikkan harga BBM bersubsidi dan akan menghitung ulang dampak kenaikan ICP.

Karena itu, solusi ekonominya perlu bekerja di dua sisi, harga dan pasokan. Pertama, selisih harga Pertalite dan Pertamax perlu dikelola agar tidak terlalu lebar. Ekonom UGM Fahmy Radhi sudah mengusulkan penyempitan selisih sejak 2022, meski menaikkan harga Pertalite harus dibarengi bantuan tunai bagi kelompok rentan karena berisiko menekan daya beli. Kedua, subsidi perlu bergeser dari harga ke penerima, misalnya lewat pembatasan jenis kendaraan atau kuota berbasis data, agar yang menikmati adalah yang berhak. Ketiga, pemerintah perlu menyiapkan penyangga fiskal dan terbuka soal skenario biaya subsidi pada berbagai level harga minyak. Keempat, biaya cadangan dan armada distribusi perlu dibandingkan dengan biaya antrean berupa waktu kerja yang hilang, termasuk bagi pengemudi ojek online yang bergantung pada BBM; penambahan cadangan Bali dari 11 ke 15 hari adalah salah satu contohnya. Kelima, dalam jangka menengah, permintaan BBM perlu diturunkan lewat transportasi umum yang layak dan efisiensi energi.

 

Sumber & Referensi : 

Kementerian ESDM, Ketegangan Geopolitik Dorong ICP September Naik ke US$112,81 per Barel (12 Oktober 2026): https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/ketegangan-geopolitik-dorong-icp-september-naik-ke-us11281-per-barel

Kementerian ESDM, Tujuh Kapal Dikerahkan, Bahlil Perkuat Cadangan BBM Bali hingga 15 Hari (19 Oktober 2026): https://www.esdm.go.id/en/media-center/news-archives/tujuh-kapal-dikerahkan-bahlil-perkuat-cadangan-bbm-bali-hingga-15-hari

ANTARA, Wamenkeu pastikan tak ada kenaikan harga BBM subsidi (13 Oktober 2026): https://www.antaranews.com/berita/5783481/wamenkeu-pastikan-tak-ada-kenaikan-harga-bbm-subsidi

Kementerian Keuangan, APBN 2026 untuk Kedaulatan Pangan, Energi, dan Ekonomi (asumsi makro APBN 2026): https://mediakeuangan.kemenkeu.go.id/article/show/apbn-2026-untuk-kedaulatan-pangan-energi-dan-ekonomi

ANTARA, Bahlil sebut antrean BBM di Bali diduga karena isu distribusi (14 Oktober 2026): https://www.antaranews.com/berita/5786329/bahlil-sebut-antrean-bbm-di-bali-diduga-karena-isu-distribusi

Okezone via RCTI+, Bahlil Ungkap Penyebab Antrean Panjang di SPBU Makassar (14 September 2026): https://www.rctiplus.com/news/detail/ekonomi/5472774/bahlil-ungkap-penyebab-antrean-panjang-di-spbu-makassar

Katadata, Pertamina Klaim 80% Antrean SPBU di Makassar sudah Melandai (14 September 2026): https://katadata.co.id/berita/energi/6aa809206d6e5/pertamina-klaim-80-antrean-spbu-di-makassar-sudah-melandai

Katadata, Pertamina Akui Ada Antrean BBM di SPBU Imbas Pergeseran Konsumsi ke Pertalite (11 September 2026): https://katadata.co.id/berita/energi/6aa39294e2dee/pertamina-akui-ada-antrean-bbm-di-spbu-imbas-pergeseran-konsumsi-ke-pertalite

iNews via RCTI+, Antrean BBM Mengular hingga Ratusan Meter di Makassar, Sulsel Terapkan Ganjil Genap (13 September 2026): https://www.rctiplus.com/news/detail/berita-utama/5472421/antrean-bbm-mengular-hingga-ratusan-meter-di-makassar–sulsel-terapkan-ganjil-genap

Kontan, Pertamina Ungkap Penyebab Antrean Mengular di SPBU Bali (14 Oktober 2026): https://industri.kontan.co.id/news/pertamina-ungkap-penyebab-antrean-mengular-di-spbu-bali

CNN Indonesia, Fakta-fakta Antrean BBM di SPBU Bali (14 Oktober 2026): https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20261014101218-85-1415097/fakta-fakta-antrean-bbm-di-spbu-bali

Katadata, Antrean BBM Mengular di Bali, Pertamina Tambah Pasokan Pertalite dan Pertamax (15 Oktober 2026): https://databoks.katadata.co.id/energi/statistik/6ad0896b37e8e/antrean-bbm-mengular-di-bali-pertamina-tambah-pasokan-pertalite-dan-pertamax

Kontan, Antrean BBM di Bali Mulai Mereda, Pertamina: 19 Juta Liter Pasokan Sudah Tiba (15 Oktober 2026): https://industri.kontan.co.id/news/antrean-bbm-di-bali-mulai-mereda-pertamina-19-juta-liter-pasokan-sudah-tiba

Gebrak.id, Antrean BBM di Bali Meluas, Pertamina Percepat Pasokan 24 Jam (Oktober 2026): https://www.gebrak.id/?p=58907

Katadata, Antrean Beli BBM Sempat Mengular di Bali, Pertamina Akui Pasokan Terlambat (8 Oktober 2026): https://katadata.co.id/berita/energi/6ac7604948b2b/antrean-beli-bbm-sempat-mengular-di-bali-pertamina-akui-pasokan-terlambat

RRI, Pertamax Naik, Apakah akan Memicu Tren Turun Kelas BBM? (10 Juni 2026): https://rri.co.id/jakarta/nasional/2482160/pertamax-naik-apakah-akan-memicu-tren-turun-kelas-bbm

Okezone via RCTI+, Harga BBM Pertamina Naik di September 2026 (10 September 2026): https://www.rctiplus.com/news/detail/ekonomi/5470303/harga-bbm-pertamina-naik-di-september-2026–cek-pertalite–pertamax-hingga-dex-hari-ini

Investortrust, Dampak Harga RON 92 Naik, 26% Pengguna Pertamax Bisa Beralih ke Pertalite (10 Juni 2026): https://investortrust.id/business/106008/dampak-harga-ron-92-naik-26-pengguna-pertamax-bisa-beralih-ke-pertalite

ANTARA, Menteri Purbaya akan tambah Rp100 triliun untuk subsidi energi (1 April 2026): https://www.antaranews.com/berita/5505441/menteri-purbaya-akan-tambah-rp100-triliun-untuk-subsidi-energi

Bisnis.com, Defisit APBN Diramal Melebar ke 2,9%, Subsidi Energi Bisa Bengkak Rp100 Triliun (1 April 2026): https://ekonomi.bisnis.com/read/20260401/9/1963761/defisit-apbn-diramal-melebar-ke-29-subsidi-energi-bisa-bengkak-rp100-triliun

Bisnis.com, Harga Minyak Naik, Kebutuhan Subsidi dan Kompensasi 2026 Bertambah Rp132 Triliun (7 Juli 2026): https://ekonomi.bisnis.com/read/20260707/10/1986302/harga-minyak-naik-kebutuhan-subsidi-dan-kompensasi-2026-bertambah-rp132-triliun

DDTCNews, Harga Minyak Rawan Naik, Purbaya Tak Buru-Buru Tambah Belanja Subsidi (11 September 2026): https://news.ddtc.co.id/berita/nasional/1822392/harga-minyak-rawan-naik-purbaya-tak-buru-buru-tambah-belanja-subsidi

ANTARA, Ekonom UGM usul naikkan harga Pertalite dan turunkan harga Pertamax (Agustus 2022): https://gorontalo.antaranews.com/berita/205565/ekonom-usul-harga-pertalite-dinaikkan-harga-pertamax-diturunkan

Make a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

We are an independent research institution committed to excellence in data and research to deliver the right strategies

Contact Info

Office Address