8 Fakta Yang Harus Kamu Tahu Mengenai Kerusuhan di Prancis

October 20, 2026

8 Fakta Yang Harus Kamu Tahu Mengenai Kerusuhan di Prancis

Rangkaian demonstrasi besar yang mengguncang Prancis pada 17 Oktober lalu telah meninggalkan jejak kehancuran yang masif. Sebuah toko Apple di Lille dibobol, balai kota bersejarah di Limoges yang dibangun pada tahun 1883 hangus terbakar, dan sekitar 50 gerai ritel Carrefour dirusak massa, dengan 20 di antaranya habis dijarah.

Gelombang protes yang melibatkan sekitar 500.000 orang di seluruh penjuru negeri ini memunculkan dilema yang pelik. Para demonstran menuntut perbaikan kesejahteraan yang membutuhkan kucuran dana besar. Di sisi lain, pemerintah Prancis sedang menghadapi krisis anggaran. Situasi yang berujung pada kerusuhan ini pada akhirnya memberi pemerintah alasan kuat untuk merespons dengan penindakan tegas di lapangan.

Berikut adalah delapan fakta utama yang merangkum rangkaian peristiwa protes di Prancis:

  1. Bermula dari Kekurangan Guru di Créteil

Akar dari gerakan nasional ini sebenarnya bersifat lokal. Pada pertengahan September, para siswa di sebuah lycée (sekolah menengah atas) di wilayah Créteil, tenggara Paris, turun ke jalan. Mereka memprotes kekurangan tenaga pengajar, minimnya guru pengganti, kapasitas kelas yang terlalu padat, hingga fasilitas gedung sekolah yang buruk.

Antara 28 September dan 2 Oktober, kepolisian mencatat lebih dari 5.000 penahanan terkait protes ini, di mana sekitar 85 persennya adalah anak di bawah umur. Juru bicara Kepolisian Nasional menyebut lebih dari 600 aparat keamanan terluka sejak awal gerakan dimulai. Menteri Pendidikan Édouard Geffray melaporkan 24 sekolah dibakar atau dirusak dan 78 staf pendidikan terluka, dengan kerugian negara diperkirakan mencapai 20 hingga 30 juta euro.

  1. Membesar Menjadi Protes Kenaikan Biaya Hidup

Memasuki Oktober, protes mengalami perluasan. Serikat pekerja dan simpatisan gerakan Rompi Kuning (gilets jaunes) mulai bergabung. Tuntutan mereka meluas pada isu kenaikan biaya hidup, ketimpangan sosial, dan penurunan kualitas layanan publik. Survei L’ObSoCo bersama Sciences Po pada 8 Oktober memperlihatkan 45 persen responden menganggap inflasi dan menurunnya daya beli sebagai persoalan paling krusial. Laporan media memperkirakan jumlah peserta aksi 17 Oktober mencapai 500.000 hingga 550.000 orang.

  1. Amuk Massa Menyasar Toko dan Gedung Pemerintah

Kerusakan meluas di belasan kota. Di Paris, sejumlah kendaraan dan restoran dibakar massa di sekitar Place de la République. Di Lyon, kantor pariwisata setempat ludes terbakar. Di Marseille, demonstran nekat menerobos masuk ke balai kota, sementara di Bordeaux, kelompok bertopeng menyerbu kompleks kediaman pejabat setempat. Sektor ritel terpukul berat; Carrefour memperkirakan kerugian akibat perusakan dan penjarahan mencapai puluhan juta euro.

  1. Ribuan Penahanan dan Ratusan Korban Luka

Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez mengumumkan bahwa sebanyak 2.513 orang ditahan per 19 Oktober. Sebanyak 67 orang langsung dipenjara dan lebih dari 500 orang dijadwalkan untuk disidang dalam waktu dekat.

Perdana Menteri Sébastien Lecornu melaporkan sekitar 150 anggota kepolisian terluka pada 17 Oktober. Aksi ini juga memakan korban sipil. Seorang demonstran meninggal dunia akibat henti jantung di Paris, dan seorang pemuda di Saint-Étienne mengalami luka parah di bagian tangan akibat granat aparat, menurut keterangan Wali Kota Régis Juanico.

  1. Jumlah Massa Relatif Lebih Kecil dari Historis Protes

Meski dampaknya masif, jumlah peserta demonstrasi 17 Oktober sebenarnya jauh lebih kecil dibanding aksi historis Prancis. Demonstrasi menentang kenaikan usia pensiun pada Oktober 2010 diikuti 1,2 hingga 3,5 juta orang, sedangkan aksi menolak kontrak kerja pemuda pada tahun 2006 melibatkan 1 hingga 3 juta orang. Massa 17 Oktober kurang dari separuh batas bawah angka 2010.

Kementerian Dalam Negeri mencatat kekerasan dipicu oleh kelompok radikal berpakaian gelap dan bermasker. Jumlah penahanan 2.513 orang hanya setara sekitar 0,5 persen dari perkiraan total massa, membuktikan bahwa mayoritas peserta tidak terlibat dalam kekerasan.

  1. Kebuntuan Finansial Pemerintah Prancis

Tuntutan demonstran sulit dipenuhi karena kondisi keuangan negara yang sempit. Defisit anggaran Prancis untuk tahun 2026 diproyeksikan mencapai 5,4 persen dari produk domestik bruto (PDB), salah satu yang tertinggi di zona euro. Beban pembayaran bunga utang negara pada 2026 bahkan diproyeksikan akan melampaui belanja pendidikan dan pertahanan. Janji Geffray untuk menyediakan 3.000 guru pengganti dibuat dalam batas anggaran tersebut, sehingga gagal meredam protes. Tuntutan untuk menaikkan gaji, menambah guru tetap, atau menurunkan usia pensiun memerlukan belanja yang jauh lebih besar.

  1. Respons Represif dari Negara

Presiden Emmanuel Macron menegaskan seluruh pelaku perusakan akan dituntut dan dihukum. Angka 67 orang dipenjara dan lebih dari 500 orang yang segera disidang membuktikan janji itu dijalankan dalam hitungan hari. Pendekatan ini menuai kritik tajam. Serikat hakim dan Liga Hak Asasi Manusia Prancis mengecam tindakan polisi terhadap demonstran muda, yang berujung pada Inspektorat Jenderal Kepolisian Nasional (IGPN) membuka lima penyelidikan, meski penyelidikan tersebut belum membuktikan adanya pelanggaran hukum.

  1. Panggung Politik Menuju Pilpres 2027

Mengingat Macron tidak bisa mencalonkan diri lagi pada pemilihan presiden April-Mei 2027, kerusuhan ini memanaskan peta politik. Dalam survei yang dikutip CNBC Indonesia, tokoh sayap kanan Marine Le Pen memimpin dukungan dengan 32 persen, disusul Édouard Philippe dan Jean-Luc Mélenchon dengan 15 hingga 16 persen.

Lecornu menuding kelompok sayap kiri radikal memanfaatkan aksi ini sebagai pemanasan 2027. Le Pen menuduh Mélenchon memicu kekerasan, sementara Mélenchon mengecam penjarahan sekaligus menuduh polisi terlalu represif. Dengan kas negara yang sempit dan gambar penjarahan yang mendominasi media, pemerintah kemungkinan terus merespons dengan penindakan. Situasi ini memberikan keuntungan politik bagi Le Pen untuk menjual narasi “ketertiban dan keamanan” sebagai program utamanya.

Sumber & Referensi :

Fakta-fakta Demonstrasi di Prancis

Kronologi & Fakta Prancis Chaos

Prancis Membara, Sejarah Demo Jutaan Orang Terulang?

Kerusuhan Demo di Prancis Meluas, 2.513 Orang Ditahan

France Student Protests Spread Nationwide (IBTimes UK)

Make a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

We are an independent research institution committed to excellence in data and research to deliver the right strategies

Contact Info

Office Address